Berakhirnya Kejayaan Kakao di Soga

Memasuki Desa Soga sejauh mata memandang,  tampak kebun Kakao dimana-mana. Sesekali pohon kelapa dan pohon pisang menjulang di antara rimbunan pohon kakao. Desa dilintasi jalan bebatuan dan mendaki, sesekali pengendara berhenti sejenak untuk membiarkan kendaraan lainnya berlalu. Jalan-jalan sepi, hanya sesekali warga berlalu lalang. Rumah-rumah tidak menunjukkan penghuninya. Anjing-anjing melintasi jalan. Mereka akan mengonggong setiap kali manusia datang. Hampir setiap rumah di desa soga memiliki anjing.

Desa Soga terletak di bagian tenggara Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Luasnya 20.495 hektar, berbatasan dengan desa Mario Rilau pada bagian Utara, Desa Goarie pada bagian sela tan dan Barat, serta Desa Barae pada bagian Timur. Desa Soga memiliki 3 dusun yaitu dusun bellalao, dusun pallawa dan dusun tonronge.

Tanaman kakao menjadi komoditas utama petani di Desa Soga hingga saat ini, karena nilai harga jual yang tinggi.  “Tidak memerlukan pemeliharaan yang rutin dan tekun dibandingkan dengan yang lainnya,” ujar Hamzah, salah satu warga di dusun Pallawa.

Ia mulai menanam kakao di desa Soga sekitar tahun 1980an hingga sekarang. Semenjak itu, tanaman tembakau tersingkirkan, lahan yang sebelumnya ditanami tanaman tembakau disulap menjadi lahan untuk menanam kakao. Butuh waktu 3 tahun untuk proses penanaman kakao dari awal hingga panen.

Pada 1995 beberapa petani yang telah menikmati hasil panen kakao mulai mengganti makanan pokok mereka dari jagung menjadi beras, sejak saat itu pula produktivitas jagung menurun drastis. Semua petani di desa Soga beralih menanam kakao. Kalaupun ada yang menanam jagung itu hanya sekedar sampingan saja.

Kakao mengalami masa kejayaan sekitar tahun 1999, saat itu produktivitas kakao di desa Soga melimpah ruah. Seketika  kehidupan petani di desa Soga  berubah. Sebagaian petani bisa menunaikan ibadah haji, sebagian pula bisa membeli sesuatu yang selama ini mereka anggap luar biasa, terutama perubahan makanan pokok dari jagung menjadi beras. Harga kakao saat itu mencapai Rp20.000 dengan hasil produksi kakao dalam 1 hektar bisa mencapai 500 kilogram hinggta 1 to. Petani panen 3 kali dalam setahun, jika dihitung secara sederhana hasilnya rata-rata mencapai Rp60.000.000 tiap tahun.

Masa panen besar kakao terjadi bulan April, Mei, Juni, sedangkan masa panceklik itu pada bulan Januari, Februari dan Maret.

Namun masa kejayaan itu tidak berlangsung lama sekitar awal tahun 2000an harga kakao turun, hanya Rp8.000 hinggaRp12.000 per kilogram.

Di waktu yang sama tanaman kakao di desa Soga mulai terserang hama, beberapa hama yang menyerang seperti PBK (Penggerek buah kakao), busuk buah, kanker batang, panombe dan babi hutan.

Untuk menghadapi hama terutama PBK, petani melakukan penyemprotan dengan menggunakan racun sejenis regent dan beberapa jenis racun lainnya. Untuk panombe dan babi hutan petani langsung membunuh jika menemukannya di kebun kaka.

Di tahun 2005 petani mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa bantuan kayu jati putih, saat itu tanpa berpikir panjang petani pun serta merta menanam kayu jati di kebun dekat tanaman kelapa. Tanpa memikirkan dampak dari penanaman kayu jati yang berdekatan dengan pohon kelapa, ternyata satu kemudian petani baru menyadari bahwa keberadaan kayu jati didekat pohon kelapa mempengaruhi hasil produktivitas kelapa.

Sejak saat itu pohon-pohon sangat sedikit menghasilkan buah dan sekitar tahun 2010 produktivitas kelapa menurun hingga saat ini, hanya beberapa saja di kebun petani ada pohon kelapa itupun tidak berbuah.

Pemerintah melakukan gerakan nasional tahun 2012 dengan memberikan sumbangan berupa pupuk dan memberikan penyuluhan tentang tehnik sambung pucuk. Kondisi tanaman kakao mulai ada perubahan, seperti batangnya sudah lebih sehat, buahnya pun ada lebih berat isinya.

Saat ini untuk lahan kebun kakao seluas 1 hektar menghasilkan 50 hingga 80 kilogram dengan harga kakao Rp32.000per kilogram.  Menurut Darwis, salah satu petani kakao, perubahan itu tidak terlalu memberikan dampak positif kepada petani hingga saat ini, jika dibandingkan pada masa kejayaan kakao tahun 1999. Jika dirata-ratakan, penghasilan sekarang hanya sekitar Rp7.680.000 per tahun.

Jika dibandingkan dengan harga beras. Tahun 1999 harga beras Rp1.500 per kilogram, harga kakao Rp 20.000 per kilogram. Hasil  Rp18.500

Tahun 2015 harga beras Rp8.000, harga kakao Rp32.000, hasil  Rp24.000

Jadi, pada tahun 1999 dari harga kakao Rp20.000 petani mengeluarkan sebesar 7,5% untuk kebutuhan pembelian beras, sedangkan tahun 2015 dari harga kakao Rp32.000 petani mengeluarkan 25% untuk membeli kebutuhan beras, belum menghitung kebutuhan lainnya.

Di tengah hasil produksi kakao semakin menurun, tingkat kesuburan tanah di desa Soga semakin memburuk akibat penggunaan bahan kimia. Lahan tak lagi bisa diandalkan.

Banyak penduduk desa Soga terutama kaum pemuda memilih keluar desa untuk mencari tambahan penghasilan, beberapa daerah tujuan mereka seperti Malaysia, Makassar, Siwa, dan Kolaka, Sulawesi Tenggara. Mereka banyak menjadi buruh di kebun kelapa sawit di Malaysia, di  Siwa, mereka menjadi buruh pemetik cengkeh,  di Kolaka jadi petani kakao. []

Oleh Anriani, peserta Pelatihan Penelitian Desa (PPD) SRP Payo-Payo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *