Demi Air Mengalir di Kampung Benteng

Ini kisah seorang petani bernama Umar yang tinggal di Kampung Benteng, Dusun Padang Tenggah Raya, Desa Tompobulu, Kec. Balocci, Kab. Pangkep. Dia memberanikan diri mengajukan proposal air bersih yang diambil dari titik sumber di Bukit Batu Putih kepada Kepala Desa Tompo Bulu, Syamsuddin.

Namun permintaan Umar tak digubris. Umar tak menyerah, kemudian mencoba minta dukungan Ardi Arsyad yang waktu itu masih menjabat sebagai anggota komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Pangkep. Proposalnya berbuah manis. Pipa biru berukuran 4 inci sebanyak 40 batang turun langsung kepada warga Benteng.

Saat bantuan pipa sampai di Kampung Benteng, Umardan 3 warga lain langsung memasangnya pada titik sumber air di Bukit Batu Putih. Perlu waktu satu jam berjalan kaki dari rumah paling ujung di dusun dua hingga hutan di Bukit Batu Putih tanpa membawa apa pun dengan menyusur jalan setapak dan mendaki. Pada ketinggian 900an mdpl umar harus menghadapi jalan setapak kemiringan 60 derajat. Ia dan warga lain menyelesaikan pemasangan pipa dan membuat bendungan selama 2 hari kerja.

Bendungan ini berjarak 1 meter dari titik sumber air di atasnya yang merupakan air resapan dari hujan yang diasumsikan layak minum karena mengalami penyaringan oleh lapisan bebatuan.

Kondisi bendungan belum disemen pada lantai dasarnya. Jika disemen, pada musim kemarau bendungan ini bisa menampung air dan dialirkan ke penampungan air yang dekat dengan warga. Debit air saat kemarau sangat kecil namun tetap ada sepanjang musim (belum diketahui debit air pasti saat kemarau).Menurut perhitungan Pak Umar, “Jika sudah disemen dasarnya, saat kemarau masih bisa memenuhi kebutuhan air bersih warga, cukup semalam dia bisa tetap mengalir ke penampungan yang di bawah.”

Kondisi pipa biru ini cocok untuk menyalurkan air konsumsi karena bahannya sama seperti yang digunakan oleh PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum). Perlu juga dipasang penyaring pada ujung pipa yang tertanam dibendungan agar tidak tersumbat akar atau guguran daun yang ada di sekitar bendungan.

Pembangunan Saluran Air Terhambat
Seusai pemasangan pipa biru, Pak Umar kembali mengusulkan kelanjutan pembangunan saluran air ini melalui Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes). Tapi tetap tidak ada dukungan, bahkan sampai sekarang, Syamsuddin sama sekali belum pernah mengecek keberadaan sumber air ini. Kebijakan desa pun belum ada yang mengarah untuk meneruskan pembangunan saluran air.
Saluran air ini diperuntukkan kepada warga Banteng yang berada di deret antara Pak Gasing sampai dengan Pak Umar yang memiliki total 15 rumah. Warga deretan ini tidak bisa mengakses air bersih yang dibangun oleh salah satu lembaga swadaya masyarakat (CARE Indonesia) pada tahun 2009.

Sumber air yang disalurkan adalah sumber Danti. Air dari Danti tidak mampu mengalir sampai deretan ini karena posisi rumah warga lebih ringgi daripada sumber air Danti. Sedangkan warga RT 2 Benteng yang berada pada deretan Masjid Nurul Jannah sampai arah ke Bulu-bulu sebanyak 30 rumah. Saat ini mereka masih menggunakan sumber air Danti dengan kondisi pipa dan kran rusak. Tidak ada perbaikan dengan kondisi ini.

“Warga tidak mau membenahi, dan menunggu bantuan untuk memperbaiki saluran air,” kata Pak Umar, kemudian menyeruput teh panas buatan istrinya.

Malam semakin larut, angin semakin kencang namun tak menyurutkan semangat Pak Umar untuk menceritakan kondisi Warga Benteng. Ia merasa perlu adanya kerja bersama untuk urusan air ini. Kesuksesan pembangunan bendungan Batu Moppo di dusun Bulu-bulu telah menginspirasinya. Pak Umar ingin meniru keberhasilan warga Dusun Bulu-bulu dengan mendaftar penerima manfaat dari pembangunan saluran air. Dusun Bulu-bulu adalah dusun tetangga yang telah berhasil mengelola saluran airnya. Ada 15 rumah di deret Pak Usman dan 30 kepala keluarga RT 2 kampung Benteng sehingga total 45 Kepala Keluarga.

Berikut adalah perkiraan biaya yang diperlukan untuk melanjutkan pembangunan saluran air warga Benteng.

Perkiraan biaya hanya diperuntukkan bahan yang tidak dapat diperoleh dari dalam desa. Tidak memerlukan semen karena kebutuhan menimbun cukup dengan menggali tanah hutan saja. Karena pekerjaan ini bersifat gotong royong, maka tidak dibutuhkan biaya pembayaran jasa tukang atau pun makan siang. Kebutuhan yang belum terhitung dalam rencana yaitu lem pipa, penyambung pipa, dan kran.

Pembangunan saluran pipa ini perlu dilanjutkan karena sampai saat ini, belum ada pranata yang mengatur pembagian air secara komunal. Sumber air di dusun ini sebenarnya melimpah namun justru dikuasai oleh perorangan. Sedangkan sumber air di Batu Putih ini sudah aman jika dilanjutkan karena sudah ada ijin dari kepala desa di kecamatan Camba yang wilayahnya berbatasan langsung dengan sumber air ini.

Oleh Elizabeth Elzha, peserta Pelatihan Penelitian Desa (PPD) Perkumpulan Payo-Payo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *