Dua Musim, Tiga Bencana

Bencana bisa saja terjadi di sekitar kita. Tak mengenal tempat, tak mengenal waktu. Bisa berupa kekeringan, kebakaran, tanah longsor, banjir, bahkan kabut asap. Mereka terjadi di segala musim, saat musim hujan, apalagi musim kemarau. Ia setiap saat mengancam kehidupan dan penghidupan kita.

Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Jadi, ia bisa berasal dari alam, maupun dari kelalaian manusia. Itu pengertian menurut Undang-Undang tentang Penanggulangan Bencana,

Saya berada di salah satu tempat yang rawan bencana, di Desa Gantarang Kecamatan Sinjai Tengah Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan. Di sana, setiap musim terjadi bencana.

Jika musim hujan tiba. Saat itu hari minggu tanggal 21 februari 2016. Hujan turun begitu derasnya mengguyur akhir pekan warga. Setelah 2 jam hujan, sekitar jam 12 siang, orang-orang ribut dan berlarian. Ternyata terjadi longsor di pinggir Jalan Tallasang. Jalan tersebut tertimbun tanah hampir setinggi orang dewasa. Untung saja tak ada korban jiwa dan tak ada rumah yang tertimpa. Yang ada hanya pepohonan yang tumbang, tiga pohon cengkeh, satupohon kelapa dan satu pohon aren.

Tak jauh dari tempat itu, pada hari yang sama, juga terjadi tanah longsor. Longsor itu terjadi di Jalan Poros Malino-Sinjai. Namun juga tak menimbulkan korban jiwa dan kerugian banyak. Hanya saja, kejadian itu sempat memacetkan jalanan.

Longsor memang peristiwa yang sering terjadi di desa itu ketika hujan tiba. Tapi, longsor yang paling parah terjadi pada malam Selasa tanggal 20 juni 2006. Banyak korban jiwa yang berjatuhan, juga mengakibatkan kerugian materil yang tidak sedikit. Menurut Pak Amir, Kepala Desa Gantarang, jumlah korban saat itu sebanyak 7 orang tewas, 24 pemukiman rusak.

Itu terjadi di musim hujan. Jika musim kemarau tiba, bencana yang terjadi lain lagi.

Tahun lalu di Desa Gantarang sendiri, kemarau terjadi pada bulan Juli sampai Desember, disebabkan badai El Nino. Akibat badai El Nino itu, air tanah berkurang. Banyak warga yang  membeli air bersih di tempat lain untuk memenuhi kebutuhannya. Tanaman kering dan mati.

Cengkeh, salah satunya. Ada 174 pohon cengkeh yang mati di sekitar pinggir jalan besar di Desa Gantarang. Itu pun belum dihitung berapa jumlah yang mati di kebun, yang jauh dari jalan. Menurut beberapa warga, ada jauh lebih banyak pohon cengkeh yang mati. Padahal, cengkeh adalah komoditas pertama dan utama warga Desa Gantarang. Menurut data dari Sensus Pertanian Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2013, sebanyak 339 rumah tangga adalah petani cengkeh. Disusul oleh kakao sebanyak 324 rumah tangga, dan jati putih sebanyak 166 rumah tangga.

Jika dihitung, akibat dari kemarau ini menimbulkan pengeluaran warga desa menjadi meningkat. Sebab, mereka harus membeli air bersih untuk kebutuhan rumah tangga. Sedangkan pendapatannya jauh berkurang akibat banyaknya pohon cengkeh yang mati dan akhirnya tak menghasilkan apa-apa.

Karena kekeringan, hutan di Desa Gantarang rawan terbakar. Kebakaran hutan terjadi di Dusun Mattirowalie sekitar Oktober 2015 lalu. Menurut beberapa sumber, hutan yang terbakar seluas 5 hektar. Hutan itu didominasi oleh pohon pinus. Bahkan api sempat melalap hutan di dusun sebelahnya: Barue. Warga desa kemudian berbondong-bondong memadamkannya.

Kebakaran hutan itu cukup membuat warga Gantarang panik. Sebab, kebanyakan dari mereka menggantungkan hidupnya dengan menyadap getah pinus di hutan. Berdasarkan data Sensus Pertanian tahun 2013, sebanyak 185 rumah tangga petani Gantarang memiliki usaha pertanian di bidang kehutanan, termasuk penyadapan pinus. Menurut beberapa warga, dalam sebulan, mereka dapat mengumpulkan uang dari hasil sadap sebanyak Rp. 1.500.000. Setelah kebakaran, pendapatan mereka menurun drastis, bahkan ada warga yang tidak menyadap lagi.

Sayangnya, bencana demi bencana yang menimpa Desa Gantarang di setiap musimnya tidaklah dibarengi dengan mitigasi dan penanggulangan bencana yang baik. Sehingga penanggulangan bencana dilakukan oleh warga sekadarnya. Pencegahan bencana juga sangat minim dilakukan. Sehingga bencana tidak bisa dihindari secara dini.

Butuh peran serius pemerintah dan masyarakat untuk bersama melakukan pencegahan dan penanggulangan bencana. Harus ada langkah kongkrit untuk mewujudkan Desa Gantarang menjadi desa yang bebas dari bencana.

Oleh Mulya Sarmono, peserta Pelatihan Penelitian Desa (PPD) SRP Payo-Payo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *