Dua Petani Muda dan Angan-Angan Masa Depan

Di tengah menyusutnya jumlah petani di Indonesia, harapan untuk mempertahankan pertanian sebagai penyedia lapangan pekerjaan masih terlihat di Desa Gunung Perak, Sinjai Barat, Sulawesi Selatan. Saya bertemu banyak pemuda yang masih betah bertani dibanding pergi merantau ke tempat lain.

Dari 573 orang penduduk Dusun Puncak, salah satu dusun di desa ini, hanya 12 orang yang memilih mencari pekerjaan di luar seperti Makassar, Surabaya, dan Malaysia.

Dua  di antara pemuda yang memilih tetap tinggal di desa dan bertani itu adalah Dandi dan Nursidin, mereka berusia 17 tahun.

Sejak duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar ia sudah ikut belajar berkebun sayur pada tetangganya. Setamat sekolah dasar Dandi memilih bekerja daripada melanjutkan ke jenjang sekolah menengah pertama.

Sebagai anak pertama dengan dua adik perempuan yang masih kecil ia merasa harus ikut bertanggung jawab mencari nafkah untuk keluarganya. Setelah tiga kali berganti bos kebun dan merasa sudah memiliki pengetahuan berkebun yang cukup, ia memilih berhenti bekerja pada orang lain dan mengelola kebunnya sendiri. Sebelumnya ayahnya yang bekerja sebagai buruh harian di berbagai tempat di daerah lain seperti Bone, Sidrap, Makassar, dan Sinjai tidak sempat mengurus tanah kebunnya.  Barulah setelah Dandi berhasil menggarap tanah kebunnya sendiri, ayahnya kembali ke kampung ikut bersamanya berkebun sambil sesekali menjadi buruh harian di kebun milik tetangganya. Bentuknya adalah bagi hasil dan gaji harian. Hingga saat ini Dandi sudah mengetahui cara bercocok tanam kol, sawi, wortel, kentang, tomat, daun bawang, seledri, bawang putih, bawang merah, markisa, kopi, pisang, bertani padi beras merah, beras ketan hitam dan putih.

Sejak Desember 2014Dandi yang suka memperhatikan pekerja bangunan di sekitar desanya merasa tertarik untuk belajar. Ia ikut tetangga sebelah desanya bernama Puang Amming sebagai buruh bangunan selama 11 bulan kemudian melepaskan diri sebagai buruh lepas. Hingga kini ia dengan bangga menyebut dirinya berada di posisi antara kuli dan tukang, baik untuk rumah kayu maupun rumah batu, mulai dari memasang pondasi sampai selesai pemasangan atap ia bisa. Ia juga sudah menetapkan standar gaji. ia tidak ingin menerima tawaran jika di bawah Rp50.000 untuk 7 jam kerja.

Dandi bukan hanya mahir bertani, berkebun, dan buruh bangunan. Ia juga pandai merawat sapi. Meski hingga kini belum pernah memiliki sapi sendiri namun ia sudah lama beternak sapi potong dengan sistem bagi hasil dengan Puang Azis yang tak lain adalah tuan rumah kami selama berada di Desa Gunung Perak. Ia juga beternak kambing milik neneknya dan beternak ayam di rumahnya. Sungguh serba bias anak ini, pikirku selama berbincang-bincang dengannya.

Tidak pernah terlintas di benak Dandi untuk mencari pekerjaan di luar desanya. Pada dasarnya ia meyakini bahwa di manapun tempatnya jika ingin berhasil kuncinya adalah mau bekerja keras. Dandi membayangkan di masa depan ia bisa berhasil dengan mengerjakan tiga hal yakni berkebun sayur, beternak, dan mengerjakan bangunan. Meski bisa bertani di sawah namun ia tidak begitu tertarik sebab berkebun sayur baginya jauh lebih menguntungkan.

Jika sedang jenuh dan ingin bersantai Dandi memilih ke Kota Makassar di rumah keluarganya, satu sampai dua hari. Bagi Dandi pekerjaannya saat ini adalah pekerjaan yang membebaskan dirinya jika ingin bersantai kapanpun ia mau. Dan ia belum pernah merasa bosan dengan apa yang jalani selama ini. Ia menikmatinya. Penghasilannya dari berkebun sayur sepenuhnya untuk keluarganya sedangkan penghasilan dari kerja bangunan untuk keperluan pribadinya. Mulai membeli handphone sampai membeli motor.

Tak jauh beda dengan Nursidin, pria berusia 24 tahun dan baru saja menikah. Ia belajar bertani dan bternak sejak Sekolah Dasar. Menginjak kelas 3 Sekolah Menengah Pertama ia sudah dipercayakan oleh orang tuanya mengelola sawah dan beternak.

Setelah memutuskan untuk berdagang tembakau dan merasa tidak mampu bekerja terlalu keras di sawah, Nursidin bersama adiknya yang berbeda satu tahun diminta orang tuanya untuk bertani.

Ia baru saja menyelesaikan kuliahnya di SekolahTinggi Agama Islam Muhammadiyah kota Sinjai. Meski telah bergelar sarjana, ia lebih memilih kembali bertani. Tetap tinggal di desa karena tak bias jauh dari keluarga. Sambil bekerja ia masih tetap bisa nongkrong dengan teman sebayanya, sembari menjaga air atau memotong tembakau karena dua kegiatan itu masih dilakukan secara kolektif.

Ia tetap bercita-cita menjadi guru agama di sekolah, namun kelak ketika mendapatkan pekerjaan itu ia bertekad untuk menjalaninya sambil bertani. Sebab jika menghitung keuntungan, jauh lebih besar keuntungan bertani sayur dan beternak dibanding bekerja sebagai pegawai. Pada satu kali musim tanam sayur selama 4 bulan, ia bisa mendapatkan keuntungan mencapai 70juta rupiah dari kebun kol seluas satu hektar.

Sama seperti Dandi, Nursidin juga memiliki banyak pengetahuan dasar tentang berkebun dan beternak, namun itu tidak cukup. Keduanya mengaku masih ingin banyak belajar, butuh banyak referensi namun tidak tersedia di desa. Tak ada ruang belajar bagi petani muda yang memiliki semangat menggebu-gebu ini.

Ketika ada masalah pertanian mereka hanya pasrah. Mereka hanya tau membeli pupuk dan membeli racun, terus menerus.

Nursidin dan Dandi dua pemuda dari segelintir anak muda yang masih bertahan untuk menjadi petani. Sebagian besar petani terpaksa beralih ke sektor lain karena terhimpit kemiskinan. Dalam sepuluh tahun, Badan Pusat Statistik mencatat penurunan jumlah petani mencapai lebih dari 5 juta orang. Pada tahun 2013, jumlah petani 26,14 juta orang, turun drastis dari 2003 yang jumlahnya 31,7 juta orang. Dari jumlah petani yang tersisa saat ini kebanyakan berusia di atas 50 tahun. Sedangkan petani muda yang usianya di bawah 30 tahun, jumlahnya tidak sampai 10 juta orang di seluruh Indonesia.

Jika dalam setiap 10 tahun, lima juta petani hilang, di masa depan, kita akan kehilangan petani. Makanan yang kita makan barangkali akan diproduksi oleh perusahaan-perusahaan agrobisnis. []

Oleh Eka Besse Wulandari, peserta Pelatihan Penelitian Desa (PPD) SRP Payo-Payo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *