Kebakaran Hutan di Sinjai Barat

Asap hitam membumbung di langit Desa Gantarang, Minggu sore, 11 Oktober kemarin sekitar pukul 16.22 WITA. Kebakaran terjadi di area hutan perbatasan Dusun Mattiro Walie, Desa Gantarang, Kecamatan Sinjai Tengah, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan.

Lokasi kebakaran berada pada jarak 200 meter dari perbatasan Sinjai Barat dengan Sinjai Tengah di ketinggian 812 meter di atas permukaan laut. Titik api tersebar di beberapa batang pinus yang berjauhan.

“Pukul 17.00 api sampai di puncak,”ucap Hamka, warga Bontoloisa. Api mulai membesar pukul 17.17 WITA.

Arjun Efendi, pemuda Dusun Barue, Desa Gantarang yang ada di lokasi kebakaran mengatakan, “Ini kali kedua kebakaran di sini tapi sebelumnya api lebih cepat dipadamkan.”

Hal serupa juga diakui oleh Ahmad Syahrir, anggota Polisi Hutan Kabupaten Sinjai. Kata dia, pada 22 September lalu juga pernah terjadi kebakaran namun ada di titik lebih rendah sekitar 50 meter dari jalan poros.

“Diprediksikan karena puntung rokok, sebab tikungan hutan ini tempat singgah orang. Berkat bantuan Bupati Sinjai, Camat Sinjai Barat, Polhut dan warga api bisa dipadamkan selama 1 jam. Api muncul jam 18.30 WITA,” kata Sayuti Hasyim anggota Polisi Hutan Sinjai Barat.

Mohamad Amir, Kepala Desa Gantarang, dan sekitar 30 warga Gantarang serta serta 25 polisi hutan bersama-sama memadamkan api dengan cara memukul-mukul titik api menggunakan kayu dan daun basah.“Pukul 17.57 api sudah bisa dikuasi oleh warga,” ujar Masjur, warga Bontoloisa yang turut memadamkan api bersama warga lain. Sedangkan pemadam kebakaran dari kabupaten Sinjai tiba di lokasi pukul 18.13. Api muncul dari sisi timur sekitar 100 meter dari jalan poros.

Tak lama, mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi. Dua mobil berada di sebelah barat titik kebakaran dan satu mobil berada di titik timur. Namun hanya satu mobil yang difungsikan untuk memadamkan api. Susahnya medan karena akses jalan ke puncak menanjak sekitar 60 derajad dan gelap menjadi hambatan personil pemadam kebakaran untuk menarik selang.

Berkat bantuan warga api bisa segera dipadamkan. Menurut Ansar, anggota polisi hutan, total area yang terbakar sekitar 1,6 hektar.

Kabupaten Sinjai memiliki Kawasan Hutan Lindung Bulu Pattiroang, dengan pembagian hutan tetap seluas kurang lebih 18.894 hektar yang terdiri dari hutan lindung sekitar 11.794 hektar dan hutan produksi sekitar 7.100 hektar.

Hutan di Sinjai didominasi oleh tumbuhan pinus (pinus sp) dan memberikan iklim mikro tersendiri sehingga menambah kesegaran udara.

Titik api kebakaran terjadi pada hutan produksi, hal ini terlihat dari ciri guratan sadapan di batang pinus yang terbakar.

Menurut warga setempat yang tidak ingin disebut namanya,ia rugi Rp1.300.000 per bulan jika hutan itu terbakar. Sementara untuk dapat  memiliki Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (UPHHKY) untuk pengelolaan sekitar 1 harus melalui kelompok tani tidak dapat diakses secara perorangan mau pun perusahaan. Meski sudah ada peraturan begitu,”kongkalikon” antara warga dan aparat hutan produksi pun masih ditemukan.

Hasil pengamatan di lokasi, cara pembakaran hutan ini melalui pangkal batang pinus. Rumput di hutan ini dalam kondisi basah dan tidak mungkin dapat terbakar karena suhu di daerah ini cukup dingin. Hutan ini seperti sengaja dibakar, jika melihat dari lokasi titik terendah api yang berjarak 100 meter dari jalan poros dan ketatnya persaingan pemerolehan ijin pemanfaatan hutan. []

Oleh Elizabeth Elzha, peserta Pelatihan Penelitian Desa (PPD) SRP Payo-Payo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *