Kemana Para Pemuda Desa?

Awal September, ketika musim kemarau belum tergantikan, di Desa Soga lebih banyak terlihat orang-orang tua dan anak-anak. Beberap pos kamling yang biasanya menjadi tempat mangkal anak muda terlihat kosong. Begitupun lapangan volley, sepi peminat.

Kemana para muda?

Desa Soga terletak di Kecamata Marioriwawo, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Sejak produktivitas kakao menurun, warga desa tak punya lagi andalan penghasilan. Berbagai upaya dilakukan untuk mengembalikan kejayaan kakao.

Sejak tahun 1980, kakao menjadi komoditas utama masyarakat Desa Soga yang sebelumnya menanam tembakau sebagai komoditas utama. Di tahun 1999, ketika produktivitas kakao mencapai puncaknya sebagian besar warga desa menikmati hasil penjualan yang melimpah.

Namun hal tersebut tak berlangsung lama, hanya sampai tahun 2005 produktivitas kakao akhirnya mengalami penurunan. Usia kakao yang semakin tua dan faktor kesuburan tanah yang semakin berkurang adalah penyebabnya. Tarmasuk serangan hama yang sampai hari ini belum dapat diatasi. Hingga dekarang, hasil panen kakao tak lebih dari 30 kilogram per hektar dengan harga jual Rp 30.000 per kilogram. Jadwal panen pun  tak rutin setiap bulan.

Tak banyak yang bisa dilakukan warga.

Kondisi tersebut membuat profesi petani tak menjanjikan, sehingga tak sedikit dari mereka yang memilih merantau ke luar dari desa. Terutama bulan September, yang menjadi bulan panen cengkeh di Siwa, kabupaten Wajo.

Pada bulan Oktober mereka yang pergi menjadi pemetik cengkeh akan pulang. Hanya untuk menunggu panen berikutnya di bulan November. Setelah itu mereka akan pergi lagi meninggalkan desa.

Selain ke Siwa, ada pula yang pergi ke Kolaka, Sulawesi Tenggara untuk menjadi buruh tani di lahan kelapa sawit milik industri. Tak sedikit pula yang memilih menjadi Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia. Rata-rata mereka yang pulang membawa kabar gembira tentang kota dan negeri orang yang indah. Anak-anak yang masih tinggal di desa pun menyimpan harapan untuk melakukan hal serupa. Ditambah lagi, mereka yang pulang membawa uang. Semakin besarlah keinginan anak-anak muda untuk ikut merantau keluar dari Desa Soga.

Impian keluar dari desa terus menari-nari dalam pikiran para pemuda Desa Soga. Sebagian dari mereka bersekolah untuk kemudian pergi meninggalkan Desa setelah lulus.

Eka, salah satu pemudi yang tinggal di Dusun Tonrong punya pikiran berbeda. Gadis berusia 19 tahun yang berprofesi sebagai guru Sekolah Menengah Kejuruan itu memilih menetap di Desa Soga. Orangtua yang sudah sakit-sakitan dan keinginan untuk membangun desa dengan sarana dan prasarana yang memadai tumbuh dalam benaknya.

Mereka yang sudah bersekolah hingga lulus SMA memang cukup banyak. Namun tak banyak yang ingin menjadi petani setelah itu. Mereka telah bersekolah lebih tinggi dari orangtua mereka. Jika menjadi petani pula maka buat apa bersekolah tinggi. Seperti itulah pandangan mereka.

Seorang petani bernama Hamzah, yang berusia 57 tahun yang tinggal di Dusun Pallawa berhasil menyekolahkan dua orang anak laki-lakinya dari hasil kebun kakao seluas 3 hektar miliknya. Tapi bukan berarti dia berharap kedua anaknya meneruskan usaha pertanian yang sudah ia bangun bertahun-tahun.

“Saya menyekolahkan anak saya supaya tidak jadi petani seperti saya,” katap Hamzah. Baginya petani adalah pekerjaan yang berat dengan penghasilan yang tak menentu. Kesimpulan tersebut diperolehnya dari pengalaman menjadi petani selama 38 tahun.

Mata pencaharian utama sebagai petani mungkin akan berganti menjadi pegawai, buruh industri, atau semacamnya. Tapi bagaimana jika lahan-lahan menjadi tak terurus dan warga desa akan semakin bergantung kebutuhan pangan pada hasil industri?[]

Oleh Haliah Asriani, peserta Pelatihan Penelitian Desa (PPD) SRP Payo-Payo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *