Keringnya Sumber Air Bontolaisa

Kemarau panjang. Tanaman di pekarangan rumah kering, sawah-sawah juga. Pohon-pohon cengkeh yang menjadi komoditas utama juga banyak yang mati kekeringan. Itulah pemandangan yang tampak di Lorong Tallasang. Salah satu area di Dusun Bontolaisa, Desa Gantarang, Kecamatan Sinjai Tengah, Sulawesi Selatan. Dusun itu berbatasan dengan sungai
Jika musim kemarau begini hanya Lorong Tallasang yang tidak teraliri air dari penampungan yang ada di atasnya. Warga membuat penampungan air di kebun yang sumber airnya dari bukit Ballang Ka’bun, 150 meter di atas kebun itu yang milik Pak Mansjur.
Musim kemarau tahun 2015 ini diakui warga lebih parah dan memang lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya. Jika tahun sebelumnya air masih bisa mengalir ke rumah warga meskipun sedikit dan harus dijatah, namun tahun ini sudah hampir dua bulan penduduk Dusun Bontolaisa kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan sehari-hari.
Penampungan air itu berukuran 2x3x0,5 meter, terbuat dari terpal yang dipancang dengan bambu. Dari sanalah sumber utama air bagi warga.
Selain penampungan, ada juga selang yang mengalirkan air dengan debit 220ml/7,48dtk dengan selang ukuran ½”. Air dari selang digunakan untuk air minum dan memasak sedangkan yang di dalam penampungan digunakan untuk mandi dan mencuci. Sekitar 30 kepala keluarga bergantung pada air di penampungan ini.
Rumah Pak Amir, Kepala Desa Gantarang, juga tak luput dari kekeringan. Setiap pagi beliau harus pergi ke penampungan yang terletak sekitar 500 meter dari rumahnya. Dengan membawa jergen ia pulang balik mengangkut air ke rumahnya.
Air tersebut digunakan untuk memasak sedangkan mandi dan mencuci dilakukan di penampungan tersebut. Tiga kali seminggu, ia juga mengangkut air menuju kebunnya untuk menyiram tanaman cengkeh miliknya.
Aktifitas yang dilakukan Pak Amir ini tak jauh berbeda dengan seluruh warga di Lorong Tallassang. Anak-anak sekolah pun harus bangun sepagi mungkin untuk bergantian mandi di penampungan tersebut.
Sebenarnya, ada satu daerah di Dusun Bontolaisa yang memiliki sumber air yang tidak kering. Daerah tersebut terletak di RT 2/RW 2 Dusun Bontolaisa. Mallembong, daerah yang dihuni oleh 5 kepala keluarga ini memiliki sumber air dengan dua bak penampungan. Bak pertama berukuran 2 x 4 meter yang dibangun sekitar tahun 1990an. Terdapat saluran air menuju bak tersebut, namun air yang masuk hanya difungsikan sebagai penyaring air sehingga bagian bawah bak tersebut tidak dibeton hanya batu dan pasir untuk menyaring air. Air dari bak pertama dialirkan ke bak kedua. Bak yang yang dibangun tahun 2013. Air dari bak inilah yang mengalir menuju rumah-rumah warga di Lorong Tallassang. Namun airnya makin berkurang membuat hanya sedikit pula rumah yang bisa dialiri air.
Jika saja jadwal pengaliran air bisa diatur dengan baik, mungkin saja semua rumah bisa memperoleh pasokan air secara bergantian. Saat ini, warga yang berada jauh dari penampungan tersebut hanya bisa mengandalkan penampungan air di kebun Pak Masjur.
Kepala Desa Gantarang, telah lama ia memikirkan solusi untuk krisis air yang terjadi di desanya. Proyek pembuatan embung terlintas di benaknya. Pengecekan sumber air di hulu Sungai Tiroang yang berada sekitar 4 kilometer dari jalan poros, di bawah gunung Pationgi. Termasuk mengecek saluran air yang akan mengalir dari sumber air tersebut menuju rumah warga. Proyek pembuatan embung yang rencananya akan dibiayai oleh pemerintah rencananya akan dimulai pada bulan Mei 2016. Hal ini tentu menjadi angin segar bagi warga setempat.
Meskipun demikian, keresahan warga saat ini belum terobati. Belum ada solusi mengenai kekeringan sawah yang menyebabkan gagal panen tahun ini. Begitupun pohon-pohon cengkeh milik warga yang satu persatu mati akibat kekurangan air. Mereka hanya berharap musim hujan segera tiba. []

Oleh Daniel Handanil, peserta Pelatihan Penelitian Desa (PPD) SRP Payo-Payo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *