Menambang Batu dari Kebun

Dalam satu dekade ini, sejumlah warga Desa Gunung Perak melakoni pekerjaan menggali batu kapur di kebunnya sendiri. Batu jenis gamping itu digali di sela-sela kegiatan bertani. Batu kapur atau batu gamping salah satu material yang banyak digunakan untuk konstruksi dan pertanian, antara lain untuk bahan bangunan, bahan baku jalan raya, pengapuran untuk pertanian, untuk Pembakngkit Listrik Tenaga Uap, industri karet, industri cat, pabrik lem, pakan ternak dan industri kertas.
Desa Gunung Perak berada di puncak gunung pada ketinggian sekitar 1400 meter di atas permukaan laut, di Kecamatan Sinjai Barat, Kabupaten Sinjai. Pekerjaan utama warga desa ini bertani sayur mayur dan padi. Pada saat kemarau. Dikala air susah didapat, para petani banyak beralih pekerjaan. Ada yang jadi buruh bangunan, tukang kayu, dan tukang batu.
Setiap harinya pada pukul 10.00 wita akan datang mobil truk pengangkut batu hingga pukul 16.00 wita. Ketersediaan batu dari lahan kebun yang telah dicangkul mulai dilirik oleh pengumpul batu yang datang ke desa.
Warga menjual batunya ke H.Ila dan Suardi, dua orang pengumpul batu. Untuk satu mobil truk yang memuat sekitar 3,5 kubik batu akan dijual ke pengumpul dengan harga Rp350.000. Harga batu akan mengikuti mengikuti kenaikan harga kebutuhan pokok. Sedangkan untuk para pengumpul, batu dijual ke konsumen dengan harga antara Rp 500.000 hingga Rp. 1. 000.000 tergantung kemana batu diantarkan.
Batu-batu itu digali sendiri oleh pemilik kebun, ada juga yang mempekerjakan orang lain untuk menggali batu di lahan kebun miliknya. Penggali batu akan mendapat keuntungan dua mobil truk jika dia mendapat batu sebanyak tiga truk. Sedangkan satu truk lebihnya menjadi milik si pemilik lahan.
Jika hasil galiannya hanya mendapat batu sebanyak satu truk, keuntungannya dibagi dua. Masing-masing Rp175.000.
Seorang anak Sekolah Dasar bernama diupah Rp20.000 per hari oleh bapaknya yang penggali batu.
Pada saat hasil galian melimpah, pengumpul mengangku batu hingga 4 truk per hari. Tapi disaat sulit, butuh lima hari untuk mendapat 3 truk batu. Itupun butuh kerja keras untuk menggali hingga dalam. “Sudah habis batunya baru berhenti digali biasanya sampai dapat tanah merah,” kata Sudi.
Memasuki musim hujan, sebagian petani berhenti menjual batu. Mereka mulai mengurusi kebun sayurnya. Tapi bagi warga yang tidak berkebun dan mengurusi sawah, pekerjaan menggali batu jadi pekerjaan utama, apalagi menggali tidak memerlukan modal.
Walaupun sering diambil, tetapi batu tidak pernah habis. Batu gamping terbentuk dari organisme laut melalui beberapa proses, yaitu secara organik, secara mekanik, atau secara kimia. Sebagian besar batu kapur yang terdapat di alam terjadi secara organik, jenis ini berasal dari pengendapan cangkang atau rumah kerang dan siput, foraminifera atau ganggang, atau berasal dari kerangka binatang koral atau kerang.

Tanah yang telah diambil batunya digemburkan dulu sebelum mulai ditanami sayuran. Tujuannya untuk memperbaiki struktur tanah yang akan ditanami. []

Oleh Nisa Ihsani Said, peserta Pelatihan Penelitian Desa (PPD) SRP Payo-Payo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *