Mengagumi Ambo’

Saya Eka. Ini kali pertama saya menginjak Desa Soga, di Tenggara Kota Soppeng yang sebagian besar warganya berdarah Bugis.
Selama dua puluh hari saya tinggal di rumah Pak Hamzah berusia 58 tahun. Saya mengikuti pelatihan penelitian desa bersama Sekolah Rakyat Petani Payo-Payo. Di rumah Pak Hamzah, ada delapan anggota keluarga termasuk Pak Hamzah, istrinya bernama Ibu Samsiarah, mertuanya bernama Nenek Sali, adik iparnya bernama Iju, anaknya bernama Anti, menantunya bernama Ansar, dan dua cucunya bernama Iqbal dan Ilmi.
Saya memanggil Pak Hamzah dengan sapaan Ambo’, seperti yang anak dan cucunya gunakan untuk memanggil beliau. Menggunakan sapaan Ambo’ membuat saya merasa lebih dekat dan mengingatkan saya pada kakekku yang meninggal tiga hari setelah kelahiranku bernama Ambo’ Sinrang.
Saya tak butuh waktu lama untuk merasa seperti tinggal di rumah keluarga sendiri. Tiap kali jam makan siang Ambo’ selalu menghubungi untuk pulang makan jika saya sedang di luar. Saat Ambo’ ke pasar, saya mendapat bagian satu celana cakar (baju bekas yang didagangkan), sama seperti untuk dua anaknya.
Ambo’ adalah ketua rukun tetangga, sekaligus ketua kelompok tani di lingkungannya. Di lingkungannya, beliau dikenal sebagai petani yang ulet, tidak banyak bicara. Beliau selalu memberi contoh kepada warga sekitarnya dengan langsung memprektekkan jika ada hal baru yang ia ketahui tentang pertanian. Karena itu ia cukup disegani dan didengar oleh warga lainnya.
Seperti pada umumnya petani di Desa Soga, Ambo’ juga mulai mengganti tanaman yang awalnya ditanami berbagai jenis tanaman komoditas seperti tembakau, kacang tanah, kayu jati, bambu, pangi, sukun, nenas, nangka, cempedak, jagung, kemiri, bambu, kapas, kelapa, dan pisang menjadi kakao. Itu terjadi pada tahun 1980-an.
Kakao kemudian menjadi tanaman utama, menggantikan tanaman tembakau dan jagung. Masa kejayaan kakao datang, seperti masa memetik emas kata mereka. Sejak saat itu, warga mulai mengganti jagung dengan beras sebagai makanan pokok. Beras dianggap lebih enak, meski harganya lebih mahal dari jagung, warga desa tak kesulitan, karena hasil kakao lebih tinggu.
Namun masa memetik emas tidak berlangsung lama. Berbagi jenis hama dan penyakit mulai menyerang pada awal tahun 2000. Pohon kakao tidak lagi menghasilkan buah sebanyak di masa kejayaannya, bahkan banyak pohon kakao yang mati. Bersamaan dengan itu semakin hari harga jual biji kakao juga tidak lagi mampu menutupi kebutuhan petani.
Warga Desa Soga tidak lagi mampu berharap banyak pada kakao. Ambo’ seringkali mengeluh jika mengingat nasib kebunnya yang semakin hari tak produktif lagi. Namun ia tidak ingin tinggal diam. Beruntung saat masa memetik emas, hasilnya ia gunakan untuk membeli lahan sawah di desa lain. Di desa Soga sendiri tak ada sawah, atau kebun selain kakau. Ia memilih untuk membeli tanah daripada naik haji atau membangun rumah mewah pada saat itu. Kini ia tidak perlu khawatir untuk ketersediaan beras di rumahnya.
Tidak hanya itu, meski masih berharap masa emas itu datang lagi, tapi ia tetap bersikap realistis. Beliau sebenarnya sangat paham tentang bagaimana menanggulangi hama dan penyakit kakao.
Ambo sudah seringkali mengikuti pelatihan atau penyuluhan penanganan hama dan penyakit kakao. Namun baginya percuma saja jika yang melakukan perawatan hanya ia dan di kebunnya sendiri, sebab hama dan penyakit bisa menyebar dengan mudah dari satu kebun ke kebun lain. Ia harus melakukannya bersama petani lain, harus berkelompok, harus berkomunitas. Namun kebiasaan itu sudah hilang sejak lama.
Bersama kelompok tani yang baru ia bentuk tiga bulan lalu, Ambo’ berharap bisa mengembalikan kebiasaan berkelompok dan bekerja sama. Sambil sedikit demi sedikit Ambo’ mulai mengganti tanaman kakao yang mati dengan komoditas lain seperti pisang, kelapa, dan lombok hijau.
Ambo’ adalah petani pertama dan masih satu-satunya yang menanam lombok hijau di Dusun Pallawa. Kini ia sementara mempersiapkan sebagian lahan kebunnya untuk ditanami bawang.
Tinggal di rumah Ambo’ membuat saya bisa membayangkan bagaimana kehidupan kakek saya dulu. Kakek saya juga seorang petani yang memiliki sawah dan kebun kakao. Ambo’ tiap pagi bangun pukul 5 dini hari, setelah minum teh, sarapan, ia lalu ke kebun. Pulang sebelum shalat dhuhur, makan siang setelah itu baring-baring di depan televi sambil memutar CD lagu-lagu Bugis. Sekitar pukul 3 atau 4 sore, ia ke kebun yang tidak jauh dari rumah untuk mengambil pisang, kembali ke rumah sebelum magrib. Setelah shalat magrib, makan malam kemudian bersantai dengan keluarganya lalu tidur pukul 10. Selain rutinitas itu ada banyak kegiatan Ambo’ di luar rumah, seperti mengikuti pertemuan petani di ibukota kecamatan, memenuhi tantangan bermain kartu domino di dusun sebelah, dan ikut bergotong royong jika ada perbaikan jalan di lingkungannya.
Dua hari sebelum saya meninggalkan Desa Soga karena fase kedua akan berakhir, Ambo’ memperlihatkan kepada saya cara ia membuat sagu dari isi dalam batang pohon rumbia. Batang pohon rumbia itu pemberian tetangga di depan rumahnya. Cara pada umumnya adalah memotong isi dalam batang menjadi potongan kecil, lalu ditumbuk. Setelah ditumbuk direndam dalam wadah yang berisi air kemudian disaring. Hasil saringannya lalu diendapkan, setelah 15 menit air endapan dibuang.
Sari isi dalam batang rumbia itulah yang kemudian dijemur dan menjadi sagu. Cara seperti itu memakan waktu selama satu hari, proses menumbuklah yang membutuhkan waktu berjam-jam. Namun saat itu Ambo’ ingin mencoba cara baru. Ia ingin memanfaatkan alat ketam elektrik untuk mempercepat proses pembuatan sagunya. Walhasil sagu bisa selesai disaring dan siap jemur hanya dalam waktu dua jam. Segera kabar ini tersebar di lingkungan Pallawa dan banyak tetangga yang tertarik mencoba hal yang sama. Sayangnya saya harus segera berpindah lokasi sebelum mencicipi olahan sagu Amb
Saya mengagumi Ambo’ yang hingga kini masih ingin terus belajar banyak hal dan mencoba hal baru. Itu membuat saya juga bersamangat untuk terus belajar. Saya juga selalu mengingat pesan Pak Roem Topatimasang, “Tidak perlu tahu semua namun paling tidak tahu dasarnya.” []

Oleh Eka Besse Wulandari, peserta Pelatihan Penelitian Desa (PPD) SRP Payo-Payo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *