Pak Beddu dan Potret Petani Kecil

Musim kemarau tak kunjung berganti. Pak Beddu kesusahan membesarkan tanamannya.Mata air dari gunung jadi rebutan semua petani di desanya. Oktober biasanya hujan sudah lebat, tapi tahun ini tidak biasanya.
Pak Beddu kerja serabutan, sembari menunggu hujan. Dia mengangkut batu pada saat senggang, ketika tak ada orang bangun rumah dimana ia akan menjadi buruh bangunan Di lain waktu pada saat sepi pekerjaan, dia bekerja membersihkan sekokah SD (sekolahdasar), yang letaknya hanya terhalang beberapa rumah saja dari kediamannya. Ia diupah Rp375.000 per bulan untuk pekerjaannya membersihkan sekolah. Ia membuka gerbang sekolah di pagi buta setelah ia menyirami padinya sekitar pukul 4 pagi.
Pak Beddu, dan keluarganya tinggal di Dusun Puncak, Desa Gunung Perak, Kecamatan Sinjai Barat. Dusun Puncak berada di ketinggian 1200 di atas permukaan laut.
Di desa tempat tinggal Pak Beddu, hampir semua warganya bertani padi dan sayur-mayur. Di masa ketika air melimpah, Pak Beddu menanam padi. Dalam satu tahun, Pak Beddu hanya bisa memanen dua kali. Karena padi yang ia tanam membutuhkan waktu lama untuk bisa dipanen. Ia menanam beras merah, yang ia bibit sendiri. Pak Beddu enggan menanam padi jenis unggul. Menurut dia, lebih baik lama memanen asal bisa menikmati beras merah yang ia tanam turun temurun dari keluarganya.
Hasil sawahnya hanya cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari. Ia mendapat 700 kg dalam satu kali panen. Harga beras merah berkisar Rp19.000 per liter. Tahun ini selain kemarau, ulat merebut padi Pak Beddu. Hasilnya pasti akan berkurang.
Kenapa tidak disemprot racun?
“Semua mahluk hidup mencari makan begitupun mahluk lain juga, mereka perlu makan juga. Kalau rejeki sudah ditentukan oleh maha kuasa. Dan kalau ada segitu hasilnya ya saya syukuri,” kata Pak Beddu.
Pak beddu juga pernah menjadi pengumpul susu sapi perah di Kampung Kanrojo, masih di desa yang sama. Hasil susu yang biasa ia dapatkan berkisar 90 liter satu kali perah. Dalam satu hari, bisa sampai 2 kali. Dari hasilnya itu, ia mendapat untung Rp200 per liter.
Pak Beddu kesulitan beternak sapih perah, terutama dalam penyediaan pakan ternak yang berbentuk konsentrat. Setiap sapi bisa makan 15 kg satu kali makan. Sapi biasa makan tiga kali satu hari. Para peternak sapi perah kewalahan menyediakan makanan untuk sapinya, apalagi hasil susunya tidak seberapa, kalau dibanding biaya pakan sapi.
Akibatnya, sebagian peternak mencampurkan air kedalam susunya untuk mendapat untung yang banyak.
Pak Beddu mewakili kondisi banyak petani di berbagai desa. Tak sedikit petani beralih pekerjaan dari bertani ke sektor-sektor pekerjaan lain.
Tahun 2003 menurut data Badan Statistik ada 31 juta orang, sedangkan 2013 menyusut menjadi 26 juta. Jadi dalam waktu 10 tahun, terjadi penurunan 5 juta petani. Menurut data BPS, kebanyakan petani beralih menjadi buruh, karena biaya pertanian lebih besar daripada hasil yang didapat. Jika setiap tahun jumlah petani terus menyusut, kedaulatan pangan yang diimpikan akan semakin jauh dari kenyataan. []

Oleh Herman, peserta Pelatihan Penelitian Desa (PPD) Payo-Payo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *