Pertanian Skala Kecil dan Perubahan Iklim (Bagian I)

Keadilan iklim atau climate justice dan sektor pertanian merupakan bagian penting dalam diskursus perubahan iklim. Dalam hal ini penyebab dan dampak perubahan iklim dapat dilihat sebagai ketidakadilan dan ketimpangan global, dimana negara-negara industri maju menjadi penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca, sementara penanggung dampak terparah adalah negara-negara dunia ketiga.
Data dari Badan Pertanian dunia atau FAO tahun 2010 bisa segera menunjukkannya. Di Amerika Serikat kepemilikan lahan pertanian rata-rata 118 hektar per pemilik, menunjukkan bahwa sebagian besar pertaniannya melibatkan petani besar. Sementara rata-rata emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian negeri ini sekitar 469 juta ton setara Co2 pertahun, seperti yang dirilis oleh Badan Perlindungan Hidup Amerika Serikat (EPA) tahun 2013.
Dengan angka emisi sebesar itu, Amerika Serikat menikmati hasil dari nilai tambah pendapatan domestik bruto sektor pertanian hingga mencapai US$ 1439,13 triliun, menurut Bank Dunia. Atau sekitar Rp 14.671, 17 triliun, sama dengan tujuh kali lipat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2013, atau hampir lima puluh kali lipat dari subsidi bahan bakar minyak Indonesia.
Sementara di Indonesia, menurut sensus 2003, sebagian besar petani adalah petani kecil atau pertanian keluarga (nasional 56,5 %; Pulau Jawa 74,9 %) dan kepemilikan lahan kurang dari 0,5 hektar per keluarga .
Sektor pertaniannya pun hanya membuang udara seperempat dari emisigas rumah kaca sektor pertanian Amerika Serikat (sekitar 126 juta ton setara Co2) dan hanya bisa memperoleh sekitar Rp 327,6 triliun pendapatan domestik bruto dari nilai tambah sektor pertanian.
Artinya sektor pertanian Amerika Serikat memiliki daya rusak terhadap atmosfir bumi empat kali lebih besar dibanding sektor pertanian Indonesia, tapi menikmati 45 kali lebih banyak dari hasil merusak tersebut. Itu belum memperhitungkan fakta bahwa 43% produk sektor pertanian Amerika Serikat diekspor ke negara-negara Asia.Lebih Rp 20 triliun di antaranya diimpor oleh Indonesia.
Pada saat bersamaan, kelompok masyarakat yang paling rentan terpapar risiko dari dampak perubahan iklim yang disebabkan gas rumah kaca tersebut, tentu saja adalah petani skala kecil seperti sebagian besar petani di dunia ketiga, termasuk Indonesia. Sementara dalam skala global, saat ini terdapat sekitar 2,5 milyar penduduk bumi yang hidup di sektor pertanian; 1,5 miliar di antaranya adalah petani skala kecil berdasarkan data Organisasi Pangan Dunia atau FAO tahun 2013.
Untuk mengatasi kondisi ini, dan pola pikir penyokongnya, salah satu elemen yang dibutuhkan lebih banyak studi mengenai kemanjuran pertanian skala kecil dalam menghadapi berbagai macam ancaman, termasuk perubahan iklim.

Sebagaimana akan terlihat dalam kasus yang diulas dalam tulisan ini, sistem pertanian skala kecil terbukti berpotensi untuk menyokong proses adaptasi, bahkan mitigasi, dampak perubahan iklim.

Sistem pertanian skala kecil sejak dahulu sudah menjadi sistem pertanian dan pangan yang memerhatikan kelestarian sumberdaya, biodiversitas, serta mempertimbangkan ketersediaan sumberdaya lokal,jauh sebelum adopsi besar-besaran sistem pertanian Revolusi Hijau yang memodernisasi dan mengkomersialisasi sistem pertanian dan pangan dunia.

Prinsip-prinsip tersebut memungkinkan pertanian skala kecil bertahan dari berbagai macam perubahan, baik perubahan tatanan ekonomi, sosial dan budaya misalnya globalisasi pasar komoditas pertanian sampai perubahan ekologis dan demografis, misalnya perubahan iklim dan tekanan pertumbuhan demografis.

Bersambung…

Oleh Karno B. Batiran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *