Pertanian Skala Kecil dan Perubahan Iklim (Bagian II)

Menurut data World Resources Institute tahun  2005, aktivitas pertanian menyumbang 15 persen dari total emisi gas rumah kaca secara global. Gas-gas rumah kaca yang dilepas ke udara oleh aktivitas pertanian antara lain adalah karbon dioksida (Co2), metana (CH4) dan Nitron oksida (N2O).

Karbon dioksida (Co2) dilepas ke udara utamanya pada saat pengolahan lahan pertanian, dari proses dekomposisi material-material organik dalam tanah yang melepaskan gas Co2. Juga dari pembakaran biomassa dan minyak fosil selama pengolahan tanah pertanian.

Sementara metana (CH4), yang diketahui memiliki kemampuan memancarkan panas 21 kali lebih tinggi daripada Co2, adalah gas rumah kaca buangan dari proses fermentasi enterik ternak rumenansia, proses fermentasi makanan yang terjadi dalam rumen ternak rumenansia seperti sapi.

Emisi gas jenis ini juga dilepaskan lewatsistem budidaya padi dengan menggenangi sawah terus menerus. Sistem budidaya padi konvensional seperti itu memaksa dekomposisi bahan-bahan organik hanya berlangsung secara anaerobic (tanpa udara) sehingga bakteri pengurai hanya melepaskan gas metana (bukan Co2, seperti pada dekomposisi aerob).

Pertanian padi, terutama pola pertanian padi intensif air, dan peternakan menjadi sumber buangan gas rumah kaca CH4. Buangan gas rumah kaca yang lain dari sektor pertanian adalah N2O atau nitron oksida, dengan kemampuan radiasi 200 kali lipat dari karbon dioksida, dihasilkan dari, utamanya, pengaplikasian pupuk nitrogen (N) dikenal dengan pupuk urea.

Gas-gas rumah kaca itulah yang perlu dikurangi emisinya dalam kegiatan pertanian. Artinya, sistem pertanian padi basah yang menggunakan tanah, air dan input kimia secara ekstensif, yang merupakan warisan Revolusi Hijau, menjadi penyumbang penting emisi gas rumah kaca.

Literatur-literatur tentang perubahan iklim menyebutkan bahwa kelompok masyarakat pertama yang paling terdampak oleh perubahan iklim, selain kelompok masyarakat yang mendiami pesisir dan pulau-pulau kecil adalah kelompok masyarakat yang berada di sektor pertanian (Jhamtani:2009;Tubiello & Rosensweig: 2008; Altieri & Koohafkan: 2008). Terutama petani skala kecil atau skala rumah tangga, yang menjadi karakteristik sebagian besar pertanian di negara-negara berkembang di Asia, Afrika dan Amerika Selatan (Thapa & Gaiha; 2011).

Petani skala kecil menjadi kelompok masyarakat yang paling terdampak oleh perubahan iklim karena pertanian adalah sektor ekonomi yang sangat tergantung pada faktor-faktor iklim dan kondisi cuaca (hujan, suhu, air, kelembaban, dll), baik secara langsung maupun tidak langsung (IPCC, 2012).

Ketergantungan tersebut menyebabkan mereka lebih rentan terhadap berbagai macam goncangan penghidupan,dan pada saat bersamaan melemahkan daya pulih dari berbagai macam risiko ancaman.

Dampak perubahan iklim terhadap pertanian akan lebih cepat dan lebih parah di belahan dunia dengan iklim tropis, yaitu di sebagian besar Asia, Afrika dan Amerika Serikat, termasuk Indonesia.

Menurut Organisasi Pangan Dunia atau FAO, sekitar 75 persen dari kelompok masyarakat yang paling buruk terdampak oleh perubahan iklim berada di daerah pedesaan di negara-negara berkembang. Hal itu disebabkan karena mata pencaharian mereka bergantung secara langsung atau tidak langsung, kepada sektor pertanian, sehingga mereka sulit untuk mencari alternatif penghidupan lain.

Selain itu, menipisnya sumber daya alam, sebagai akibat meningkatnya tekanan lingkungan dan demografis, cenderung memperburuk tingkat keparahan dampak perubahan iklim. Sehingga kecenderungan meningkatnya ancaman terhadap pola konsumsi dan penghidupan rumah tangga yang mencari nafkah di sektor pertanian juga semakin meningkat.

Simulasi global menunjukkan bahwa kelompok masyarakat pertanian di wilayah tropis diperkirakan akan mengalami penurunan pendapatan sebagai akibat menurunnnya produktifitas pertanian. Diperkirakan kerugian menurunnya produktifitas untuk jagung, gandum dan beras berkisar antara 5 sampai 20 persen (Panagiotis, Lipper and Smulders; 2012).

Pertanian Skala Kecil: Strategi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim

Menurut Badan Pangan Dunia, perbaikan dalam sistem produksi pertanian menawarkan potensi signifikan dalam upaya mitigasi peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer.

Sementara perbaikan sistem pertanian petani skala kecil merupakan respon kunci untuk mitigasi dan adaptasi dampak perubahan iklim terhadap pangan dan pertanian. Karena pertanian merupakan sektor kunci ekonomi mayoritas kelompok masyarakat di negara-negara berkembang (Conant 2009;Parry et al 2007; Adger et al 2003;McCarthy, Lipper, Branca; 2011).

Berbagai model praktik dan teknologi pertanian skala kecil memiliki potensi untuk meningkatkan kapasitas adaptif sistem produksi pangan terhadap perubahan iklim sekaligus mampu meningkatkan produksi; serta mengurangi emisi atau meningkatkan penyerapan karbon yang konsentrasinya cenderung meningkat (mitigasi).

Meskipun demikian, kebanyakan praktik-praktik tersebut sulit untuk diadopsi petani skala kecil karena berbagai hal, seperti biaya investasi awal, sejarah pola pemanfaatan lahan, kondisi agro-ekologi serta rezim iklim (McCarthy, Lipper, Branca; 2011).Sistem produksi pangan yang sulit diadopsi oleh petani skala kecil utamanya adalah sistem yang berbasis teknologi pertanian modern karena merupakan industri yang intensif energi fosil, dan sangat bergantung kepada sistem energi dan perdagangan global.

Selain itu, kemampuan adaptasi masyarakat lokal yang sebenarnya telah terbukti berhasil saat ini cenderung mengalami kegagalan karena rusaknya institusi sosial lokal (Adger & Brooks; 2003).

Ini juga terjadi pada sebagian sistem produksi pangan lokal berbasis pertanian skala kecil. Pertanian keluarga, yang merupakan sistem pertanian yang sudah lama dikembangkan dan diteruskan secara turun-temurun dan terbukti sangat adaptif terhadap perubahan,sekarang ini mengalami tekanan terutama akibat sistem ekonomi pasar. Salah satunya karena pertanian keluarga dipaksa mengikuti dan terintegrasi kedalam sistem ekonomi global.

Sehingga hanya ada dua pilihan: terpinggirkan dengan tetap menjadi petani subsisten atau bersaing mengikuti pola pertanian industrial—hingga menjadi unit produksi lebih besar yang kompetitif dengan menggilas sesama petani.

Meskipun demikian, masih terbuka peluang mengembangkan sistem produksi pangan dan pertanian yang bisa dikembangkan oleh petani skala kecil dan memiliki manfaat adaptasi dan mitigasi.

Selain sistem produksi pangan yang berbasis teknologi pertanian modern, di berbagai belahan bumi berkembang berbagai sistem pertanian yang memungkinkan petani skala kecil terus bertahan dalam ketidakpastian perubahan lingkungan global terutama yang disebabkan oleh perubahan iklim. Walaupun banyak yang hilang, sebagian masih mampu bertahan. Sebagian besar di antaranya adalah sistem pertanian tradisional yang prinsipnya berkelanjutan dan biasanya berskala kecil. Bukan sistem pertanian berwatak industrial.

Salah satu bentuknya yang masih bertahan adalah sistem produksi pangan yang dikerjakan oleh para petani skala kecil, pertanian keluarga, dimana sebagian besar karakteristiknya adalah pertanian yang mengkonservasi sumber daya alam. Sistem ini telah terbukti meningkatkan resilience agro-ekosistem dalam situasi lingkungan dan ekonomi global yang terus berubah; saat bersamaan juga berkontribusi secara signifikan terhadap penyediaan pangan baik lokal, regional, nasional maupun global (Netting; 1993).

Karakteristik kunci sistem pertanian skala kecil dan pertanian tradisional adalah sistem tersebut merupakan hasil dari akumulasi pengalaman petani dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Sistem ini lahir berdasar pada kemandirian, pengetahuan eksperimental dan pengalaman berinteraksi dengan (keterbatasan dan ketersediaan) sumber daya lokal.

Karakteristik lain adalah biodiversitas tanaman yang dibudidayakan, serta memanfaatkan lingkungan mikro.

Salah satu contoh pengetahuan yang hampir selalu ada dalam sistem pertanian tradisional adalah lumbung pangan keluarga dan komunitas. Karakteristik-karakteristik itulah yang memampukan sistem produksi pangan dan pertanian tradisional dan sistem pangan skala kecil berbasis keluarga menjadi strategi mitigasi dan adaptasi dampak perubahan iklim.

Sebagai contoh, pertanian skala kecil di Desa Tompobul di kaki Gunung Bulisaraung, Kabupaten Pangkep.

Meskipun sistem pertanian yang diterapkan warga desa ini pertanian tradisional, namun tetap sebagai petani skala kecil berbasis rumah tangga. Mereka perlahan-lahan melakukan peralihan dalam praktik-praktik dan sistem budidaya, dari sistem budidaya konvensional ala Revolusi Hijau, ke sistem budidaya pertanian konservasi.

Praktik-praktik pertanian yang kurang lebih hampir sama prinsipnya dengan sistem pertanian tradisional yang dijelaskan sebelumnya. Houden, et. al. tahun 2007 menjelaskan bahwa salah satu jalan yang harus ditempuh oleh sistem pertanian konvensional untuk bisa beradaptasi dan berkontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim adalah dengan mengubah manajemen sistem budidaya produksi pangan dan pertanian.

Peralihan sistem pertanian tersebut,hingga taraf tertentu, berpotensi menjadi strategi mitigasi dan adaptasi warga Tompobulu terhadap perubahan iklim, meski tidak melulu untuk tujuan itu.

Oleh Karno B Batiran, Direktur Sekolah Rakyat Petani Payo-Payo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *