Primadona Soga

Nenek Holla yang pertama kali menanam kakau di Desa Soga pada dekade 70-an. Keberhasilan Nenek Hola membuat hampir semua warga desa tergiur. Kemudian mulai ditanam secara serentak dan menyebar ke dusun-dusun lain di Soga tahun 1980-an. Di dusun Bellalo kakao mulai ditanam tahun 1985-an oleh Bedu.  Sedangkan di dusun Pallawa baru bisa ditanam pada tahun 1987-an oleh Mappe dan Hennu. Kemudian, kakao pun mulai ditanam oleh petani-petani Soga. Desa Soga terletak di Kecamatan Marioriwawo, Kabupeten Soppeng, Sulawesi Selatan.

Sebelumnya kebun-kebun di Soga ditanami jagung pada tahun 1970-1975 yang merupakan tanaman pokok. Selain jagung, kebun-kebun juga ditanami kacang tanah, kapas, kacang hijau, kayu jati, kelapa, bambu, pisang, padi kebun, pangi, sukun, mangga, kemiri dan tembakau. Sampai tahun 1980-an tanaman tersebut sudah tidak lagi ditanam, seiring dengan mulai datangnya komoditas baru yang menjadi komoditas ekspor, yakni kakao.

Sejak saat itulah kemudian petani Soga mengganti tanaman di kebun mereka dengan menanam kakao. Mereka mengganti makanan pokok dengan beras, seiring dengan peningkatan hasil panen kakao. Sepanjang tahun 1980  hingga 1999 merupakan puncak kejayaan kakao di Soga dengan harga Rp 20.000 per kilogram.

Sejak itu, setiap rumah sudah mempunyai listrik sendiri, alat-alat elektronik seperti televisi, kulkas, mesin cuci dan yang lainnya. Mereka juga mempunyai kendaraan, seperti motor.

Tahun 2015  luas kebun kakao di desa Soga 258,54 hektar dengan jumlah tegakkan kakao 184,429 pohon. Hasil produksinya dalam 1 tahun terakhir adalah 35,8 ton, berdasarkan data Sistem Informasi Desa Sekolah Rakyat Petani Payo-Payo. Panen kakao biasanya terjadi pada Juni hingga Oktober. Harga kakao saat ini Rp30.000 per kilogram.

Namun, sejak tahun 2000 produktivitas kakao mulai menurun yang disebabkan oleh serangan hama dan penyakit, petani kakao di Soga biasanya menyebutnya PBK (Penggerek Batang Kakao). Pupuk kimia berlebihan dan pestisida membuat hama makin kebal, para predatornya juga ikutan mati oleh pestisida. Ini membuat ketergantungan akut terhadap pupuk kimia dan pestisida.

Tabel I.

Perkembangan Harga Kakao Dari Awal Penanamannya Di Desa Soga

TAHUN HARGA/kg
1999 Ro 20.000
2000 – 2004 Rp 8.000
2005 Rp 12.000
2010 – 2012 Rp 15.000
2013 Rp 18.000
2014 Rp 20.000 – Rp 25.000
2015 Rp 30.000

Sumber: Laporan Tim Soga pada Semiloka I Pelatihan Penelitian Desa SRP Payo-Payo pada hari Senin tanggal 7 September 2015 Pukul 13.30 WITA.

Sampai sekarang belum ditemukan solusi menumpas hama PBK yang membuat hasil produksi kakao terus turun.

Pemerintah melancarkan Gerakan Nasional sejak tahun 2009 – 2010 untuk penanaman bibit baru dan teknik sambung samping, mengingat usia tanaman kakao yang sudah lama sejak ditanam tahun 1980-an. Seharusnya dapat membantu petani kakao dalam hal peningkatan hasil panen, bukannya tetap membiarkan petani untuk mempertahankan kakao dan terus menanam kakao di kebun mereka.

 Namun, hal itu bukan alasan para petani kakao di Soga melepaskan kebunnya begitu saja. Petani kakao di Soga masih tetap mempertahankan kakaonya hingga saat ini. Penyuluhan pemerintah tidak mampu membantu petani kakao meningkatkan hasil produksi kakao. Petani kakao menanggung sendiri kerugian hasil produksi kakao yang terus menurun.

“Petani di desa Soga khususnya dusun Bellalao berpikir bahwa dengan bertani kakao, maka penghasilan mereka akan tetap seimbang dan dapat memenuhi kebutuhan keluarga”, ucap Pak Dammare’, ketua Badan Permusyawaratan Desa Soga, Jumat, 28 Agustur lalu.

“Karena perawatannya yang mudah dan tidak perlu membutuhkan air yang banyak untuk penyiraman pohon kakao. Meskipun harganya menurun, tapi kakao tetap menjadi primadona bagi petani di Soga”, kata Lahare, warga Dusun Tonronge, Sabtu, 29 Agustus lalu.

Warga lain bernama Tamasse’, perempuan berusia 54 tahun warga dusun Bellalao mempunyai luas lahan kebun di Soga 5 hektar. 3 hektar lahannya ditanami kakao, sisanya  2 hektar ditanami kayu. Dalam sekali panen mendapatkan  300 kg kakao. Pada tahun 1998 hinga 2001, harga kakao Rp 30.000 setiap kilogram, maka hasil panen kakaonya Tamasse dalam satu kali panen adalah Rp 9.000.000.  Dalam satu bulan masa panennya dua kali. Jadi, dalam penghasilan Tamasse’ kala itu kurang lebih Rp 18.000.000 setiap bulan.

Dalam proses penjualan pun petani tidak mengalami kesulitan, karena ada bebarapa pengumpul yang datang sendiri ke rumah-rumah petani kakao di Soga. Mereka tak mesti mengeluarkan biaya untuk menjualnya ke pasar.

Ada beberapa tanaman lain yang ditanam sebagai tanaman sampingan dan sebagai penunjang penghasilan selain dari kakao, seperti pisang, mangga, pohon jeruk nipis, asam jawa, pepaya dan jagung yang bisa dijadikan sebagai penghasilan tambahan petani selain kakao.

Tanaman pisang, kelapa, pepaya bisa dipanen pada bulan-bulan Januari sampai Mei, sedangkan jagung baru bisa dipanen pada bulan November hingga Desember. Daripada berharap terus pada kakao, Sultan, warga kampung Coppeng-coppeng kini mulai menanam tanaman lain seperti bawang merah.

Namun sebagian besar petani di Soga masih tetap mempertahankan kakaonya. Petani kakao di Soga hanya diajarkan bagaimana cara menanam, merawat dan menjual kakao saja. Namun, tidak diberikan pemahaman dan pengetahuan mengenai pengolahan kakao menjadi bahan makanan atau bahan lain yang berdaya jual tinggi ketimbang hanya menjual bijinya saja kepada penjual. []

Oleh Sityi M. Qori’ah, peserta Pelatihan Penelitian Desa (PPD) SRP Payo-Payo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *