Ketika Bumbu Instan mengganti Rempah-Rempah

Pagi buta, sebelum matahari terbit, saya terbangun oleh suara-suara ayam yang berkokok. Udara dingin pagi ini mengantarkan kicauan burung – burung yang beterbangan meninggalkan sarangnya untuk mencari makan. Suasana pagi seperti ini sangat jarang didapatkan di perkotaan.

Hampir dua minggu sudah saya di desa ini, desa Soga untuk pelatihan penelitian desa bersama Sekolah Rakyat Petani  Payo-payo. Desa Soga masuk Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan.  Ada tiga dusun yaitu Dusun Bellalao, Dusun Pallawa dan Dusun Coppeng-coppeng. Saya sendiri tinggal di rumah warga di Dusun Coppeng-coppeng. Di desa ini hampir semua penduduknya berkebun kakao.

Warga di dusun Coppeng – coppeng sangat ramah dan terbuka kepada pendatang. Mereka sangat cepat beradaptasi dan menerima kehadiran kami di dusun mereka. Kebiasaan warga yang hingga saat ini mereka pelihara yaitu menjamu tamu dengan makanan. Mereka akan puas dan senang, jika  banyak tamu datang dan menghabiskan makanan yang mereka sediakan.

Meski desa ini jauh dari hiruk pikuk kota tetapi dalam hal makanan tidaklah demikian. Ibu – ibu di desa Soga sangat senang menggunakan MSG (Monosodium Glutamat) atau lebih dikenal dengan nama Vetsin atau Mici.

Kenapa ibu-ibu sangat senang menggunakan MSG? “Supaya masakannya jadi enak,” ujar salah seorang ibu yang sedang sibuk memperhatikan masakannya.  MSG memang dikenal sebagai penyedap rasa sehingga membuat rasa makanan menjadi lebih enak. MSG menekan rasa yang tidak diinginkan, tetapi penggunaan MSG atau Vetsin atau Mici dalam jangka waktu lama dapat mengganggu kesehatan.

Selain penggunaan MSG, pemakaian cuka, lombok botol, minyak kelapa sawit pun sangat mendominasi masakan ibu-ibu di desa Soga.

Penggunaan rempah-rempah seperti bawang putih, bawang merah, jeruk nipis, cabe, cengkeh, daun bawang, daun seledri/daun sop, daun kemangi jarang, hanya beberapa saja yang digunakan itupun sebagai pelengkap masakan saja. Bahkan ada beberapa yang tidak suka jika makanan itu dicampur bawang atau daun bawang, padahal rempah-rempah tersebut merupakan menyedap rasa alami yang aman bagi tubuh dan bisa menggantikan MSG sebagai penyedap rasa.

 Padahal sejak beratus-ratus tahun yang lalu Indonesia dikenal di dunia dengan kekayaan rempah-rempahnya yang menjadi rebutan negara-negara di seluruh dunia. Kekayaan rempah-rempah yang dimiliki Indonesia inilah yang mendorong bangsa Portugis dan Belanda untuk menjajah Indonesia.

Sejak dahulu masakan dari berbagai daerah di Indonesia terkenal dengan kelezatan rasa serta aromanya. Kunci kekuatan rasa terletak pada bumbu dan rempah-rempah hasil pertanian. Namun penggunaan rempah-rempah pada masakan saat ini sudah mulai berkurang.  Banyak di antara mereka menanam cabe, jeruk nipis, bawang merah, kelapa, hanya untuk dipanen dan kemudian dijual kembali bahkan ada beberapa tanaman yang justru hanya menjadi pajangan saja di halaman rumah seperti Kemangi dan Seledri.

Salah satu pemanfaatan bawang putih, bawang merah dan daun bawang untuk penguat rasa dan penawar bau amis pada masakan. Terutama pada bawang putih sangat kaya dengan kandungan senyawa-senyawa sulfur seperti thiosulfinates (yang paling dikenal adalah allicin), sulfoxides (yang paling dikenal adalah alliin), dan dithiins (yang paling banyak diteliti adalah ajoene). Senyawa-senyawa tersebut yang menimbulkan bau menyengat khas bawang puti.

Senyawa sulfur dalam bawang putih ini mungkin merupakan nutrisi yang paling unik. Sulfur adalah salah satu mineral yang sangat dibutuhkan tubuh, tapi selain senyawa-senyawa sulfur, bawang putih juga merupakan sumber yang baik untuk mangan, vitamin B1, vitamin B6, vitamin C, tembaga, fosfor, kalsium, dan selenium.

Selain sebagai sumber selenium yang baik, bawang disebut tanaman ‘seleniferous’ karena tetap dapat mengambil selenium dari tanah tempat tumbuhnya walaupun konsentrasinya sangat rendah.

Sedangkan jeruk nipis berguna untuk untuk memberikan rasa asam alami. Jeruk nipis biasa diganti dengan cuka berbahan kimia dan digunakan sebagai penghilang bau amis pada ikan mentah dan ayam mentah. Ikan dan Ayam digoreng yang diperasi jeruk nipis, hasilnya akan lebih renyah dan garing.  Sedangkan cabe sangat berkhasiat meningkatkan nafsu makan (stomakik).

Rempah – rempah tersebut sangat banyak ditemukan di desa Soga namun sebagian besar warga hanya menanam untuk menjualnya, lalu mereka membeli bumbu instan. []

Oleh Anriani, peserta Pelatihan Penelitian Desa (PPD) SRP Payo-Payo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *